topbella

Minggu, 28 November 2010

Kebohongan Seorang Ibu yang Menggetarkan Hati Kita

Aku memiliki cerita tentang seorang ibu yang begitu mencintai anaknya. Ia begitu tulus menyayangi anaknya hingga ia mengorbankan segalanya demi kebahagiaan anaknya tersebut tanpa meminta balasan dan menyusahkan anaknya.
Cerita ini sungguh menyentuh, aku pun sampai menangis tak tertahan sebelum selesai membacanya.
Yaph, berikut ceritanya
Cerita tersebut bermula ketika seorang anak yang masih kecil, dia terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibunya sering memberikan porsi nasinya untuknya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuknya, ibunya berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar”

Ketika dia mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan anaknya.
Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu anak kecil itu memakan sup ikan itu, ibu tersebut duduk di sampingnya dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang ia makan. Anak kecil itu melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitnya dan memberikannya kepada ibunya. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”

Sekarang anak kecil itu sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah kakaknya, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup.
Di kala musim dingin tiba, anak itu bangun dari tempat tidurnya, dan melihat ibunya masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. anak itu berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek”

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemani anak itu pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu anak itu di bawah terik matahari selama beberapa jam.
Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambut anak itu dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untuk anak itu. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, anak itu segera memberikan gelasnya untuk ibunya sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga anak itu pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan.
Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumah anak itu pun membantu ibunya baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan mereka yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibunya untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu anak itu berkata : “Saya tidak butuh cinta”

Setelah anak itu, kakaknya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu mereka yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakaknya yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu mereka, tetapi ibu tersebut bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu anak itu berkata : “Saya punya duit”

Setelah lulus dari S1, anak itu pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya anak itu pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, anak itu bermaksud membawa ibunya untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepada anak itu “Aku tidak terbiasa”

Setelah memasuki usianya yang tua, ibunya terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, anak itu yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. anak itu melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatapnya dengan penuh kerinduan.
Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibunya sehingga ibunya terlihat lemah dan kurus kering. Anak itu menatap ibunya sambil berlinang air mata. Hatinya perih, sakit sekali melihat ibunya dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan”
Setelah mengucapkan kebohongannya yang terakhir, ibunya tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, aku percaya kita semua pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ” Coba dipikir-pikir, Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto saya
Namaku Bekti Khonaah Aku lahir pada tanggal 25 juni 1994, aku merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Kini aku mengenyam pendidikan dibangku SMA kelas 2,, Aku bergolongan darah O Hobby games Itu sajalah…. :)